๐——๐—ผ๐—บ๐—ฝ๐˜‚ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ต: ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐˜๐—ฎ ๐—ฅ๐˜‚๐—ฎ๐—ป๐—ด, ๐— ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—ถ ๐— ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ ๐——๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป
โœ•

Kategori Berita

Jum'at, 4 April 2025

.

๐——๐—ผ๐—บ๐—ฝ๐˜‚ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ต: ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐˜๐—ฎ ๐—ฅ๐˜‚๐—ฎ๐—ป๐—ด, ๐— ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—ถ ๐— ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ ๐——๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป

Koran lensa pos
Rabu, 19 Maret 2025


Penulis: Aba La Kenan

Kota kecil seperti Dompu memiliki energi yang khas: kehidupan yang akrab, ekonomi yang digerakkan oleh interaksi sosial, dan ruang publik yang masih menjadi tempat utama bagi warganya untuk mencari penghidupan. Dalam dinamika ini, pedagang kecil bukanlah sekadar pengisi sudut kota, melainkan bagian dari denyut ekonomi yang membuatnya tetap hidup. Tantangannya bukan tentang menghapus keberadaan mereka demi keteraturan, tetapi bagaimana merancang ruang yang bisa menampung mereka tanpa mengorbankan kenyamanan kota.

Kita tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan yang melihat PKL sebagai masalah yang harus "ditertibkan." Kota ini butuh visi yang lebih adaptif, di mana pemerintah bertindak sebagai fasilitator yang membuka ruang, bukan sekadar regulator yang memberi batasan. Ini berarti merancang kawasan dagang yang representatif bukan sekadar tempat relokasi yang jauh dari pusat keramaian, tetapi ruang yang benar-benar mendukung pertumbuhan usaha kecil. Zona dagang yang terintegrasi dengan transportasi, fasilitas dasar yang memadai, serta biaya yang terjangkau harus menjadi prioritas. Tidak hanya itu, PKL harus menjadi bagian dari perencanaan, melalui forum dialog dan musyawarah yang melibatkan mereka dalam menentukan solusi terbaik.

PKL bukan sekadar pedagang kecil yang mencari nafkah, tetapi bagian dari ekosistem ekonomi yang bisa tumbuh jika diberdayakan. Dengan dukungan yang tepat, mereka bisa lebih dari sekadar penjual, melainkan wirausaha yang kreatif dan mandiri. Pemerintah bisa membantu dengan membentuk asosiasi pedagang, mendorong koperasi yang memperkuat posisi tawar, serta memberikan akses ke pelatihan usaha dan teknologi digital. Jika dikelola dengan baik, kawasan PKL yang tertata rapi tidak hanya menjadi pusat perdagangan, tetapi juga daya tarik kota kecil yang mampu menarik lebih banyak orang. 

Adaptasi menuju kota yang lebih tertata tidak bisa hanya menjadi urusan pemerintah atau PKL. Masyarakat juga berperan sebagai bagian dari ekosistem ini memilih untuk berbelanja di kawasan PKL resmi, mendukung program pemerintah yang membangun keteraturan, dan terlibat dalam kampanye yang mendorong ekonomi lokal. Ketika warga memahami bahwa ruang dagang yang rapi dan nyaman bukan hanya milik pemerintah atau pedagang, tetapi milik mereka juga, maka kesadaran kolektif akan tumbuh, dan perubahan menjadi lebih mudah diterima.
Dompu memiliki peluang besar untuk menata kotanya tanpa kehilangan ciri khasnya sebagai kota kecil yang dinamis. Bayangkan kawasan PKL yang tertata dengan baik, dengan desain yang ramah lingkungan, fasilitas yang mendukung usaha kecil, serta interaksi sosial yang tetap hidup. Dengan pendekatan yang tepat, pemerintah tidak perlu lagi menggunakan cara represif, karena PKL sudah memiliki tempat yang layak. Pedagang pun tidak perlu khawatir akan ketidakpastian, karena mereka memiliki jaminan ruang untuk berkembang. Masyarakat pun bisa menikmati kota yang tetap nyaman, tanpa kehilangan kekayaan ekonominya.

Dompu sedang menatap dirinya di cermin perubahan melihat refleksi sebuah kota kecil yang mulai tumbuh, bukan hanya dalam bangunan dan jalanan, tetapi dalam kesadaran dan keberanian untuk beradaptasi. Ini bukan sekadar tentang pembangunan fisik, tetapi tentang merajut harmoni antara keteraturan dan kehidupan, antara perencanaan dan realitas, antara kebijakan dan rasa kemanusiaan.

Ada haru melihat Kota kecil ini perlahan berubah. Kota kecil yang dulu tenang kini mulai beradaptasi, menemukan ritmenya sendiri. Tenda dan rombong kecil berjejer di pinggir jalan hanyalah salah satu prnanda, aroma masakan menguar, semangat pedagang bercampur dengan deru kendaraan yang kini lebih sering tersendat. Tak seperti kota besar, perubahan di sini datang perlahan, bertahap, sering kali terasa sederhana tapi tetap berarti. Masih ada yang perlu dibenahi, masih ada sudut yang butuh perhatian, tapi Dompu terus bergerak, tidak harus terburu-buru, tidak melupakan akarnya. Bagi saya dan mungkin kita, Dompu bukan sekadar titik di peta atau tempat untuk pulang, ia adalah ruang di mana kenangan tumbuh, impian bermula, dan harapan untuk masa depan terus menyala.

MAJULAH DOMPU KU!!!