Pokdarwis di Dompu: Hidup Segan, Mati Pun Enggan

Kategori Berita

.

Pokdarwis di Dompu: Hidup Segan, Mati Pun Enggan

Koran lensa pos
Jumat, 04 April 2025

Oleh: Andi Fardian, M.A*


Dompu memiliki potensi wisata alam yang bagus—pantai-pantai yang pasirnya putih, alam yang rindang, dan budaya lokal yang unik. Ranggo, desa asal saya, adalah salah satu desa budaya yang jika dikelola dengan inovasi, akan mendatangkan pemasukan bagi desa dan daerah.  Namun, ironisnya, sektor pariwisata di Dompu seperti kapal tanpa nahkoda, berjalan tanpa arah dan nyaris tenggelam. Salah satu aktor utama yang seharusnya berperan dalam mengembangkan wisata, yakni Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), justru berada dalam kondisi yang memprihatinkan: hidup segan, mati pun enggan. Seperti mesin tua yang berkarat, keberadaan Pokdarwis di Dompu hanya sebatas nama tanpa energi yang nyata untuk menggerakkan industri pariwisata.
Masalah pertama yang saya lihat adalah lemahnya kepemimpinan dan manajemen dalam Pokdarwis. Beberapa pokdarwis sekadar dibentuk untuk memenuhi formalitas, tetapi tidak memiliki visi dan strategi yang jelas. Tanpa kepemimpinan yang kuat dan program kerja yang konkret, Pokdarwis hanya menjadi kelompok seremonial yang aktif saat ada acara pemerintah, lalu menghilang begitu anggaran habis. Tidak ada inisiatif, tidak ada kreativitas, dan yang paling fatal: tidak ada kesadaran bahwa merekalah yang seharusnya menjadi penggerak utama dalam mempromosikan wisata lokal. Jika pengelolanya sendiri tidak punya semangat, bagaimana bisa wisatawan tertarik datang?
Selain itu, saya melihat bahwa Pokdarwis di Dompu masih terjebak dalam pola pikir menunggu bantuan. Mereka lebih sibuk mencari program hibah atau proyek dari pemerintah daripada berinovasi dan mencari cara kreatif untuk mengembangkan destinasi wisata mereka. Ini seperti nelayan yang hanya berharap ikan melompat sendiri ke dalam perahu tanpa mau mendayung atau memasang jaring. Ketergantungan semacam ini membuat Pokdarwis kehilangan daya juang dan tidak mandiri dalam mengelola wisata. Padahal, banyak daerah lain yang sukses mengembangkan pariwisata justru karena semangat gotong royong dan inovasi masyarakatnya sendiri, bukan sekadar menunggu kucuran dana.
Tidak hanya itu, saya juga mengamati bahwa Pokdarwis di Dompu masih buta teknologi dan lemah dalam pemasaran. Di era digital seperti sekarang, seharusnya promosi wisata bisa dilakukan dengan mudah melalui media sosial, website, atau platform wisata.  Namun, realitanya, informasi tentang destinasi wisata di Dompu masih sangat minim di dunia maya. Jangankan foto dan ulasan yang menarik, banyak tempat wisata bahkan tidak memiliki data yang jelas di internet. Ini jelas menjadi penghambat besar, karena tanpa promosi yang efektif, wisatawan tidak akan tahu ke mana mereka harus pergi, apalagi tertarik untuk datang.
Lalu, bagaimana solusinya? Saya yakin Pokdarwis di Dompu masih bisa diselamatkan, asal ada kesadaran dan kemauan untuk berubah. Pertama, perlu ada penguatan kapasitas dan pelatihan yang serius bagi pengelola Pokdarwis, mulai dari manajemen organisasi, pemasaran digital, hingga pengelolaan destinasi wisata yang profesional. Kedua, Pokdarwis harus berhenti bersikap pasif dan mulai aktif menggandeng berbagai pihak, baik itu komunitas lokal, pelaku usaha, maupun media, untuk membangun ekosistem pariwisata yang lebih dinamis. Ketiga, penting untuk mengadopsi strategi pemasaran yang lebih modern, seperti storytelling digital, pembuatan konten visual yang menarik, dan kerja sama dengan influencer atau travel blogger untuk memperkenalkan wisata Dompu ke dunia luar.
Namun, semua upaya ini tidak akan maksimal tanpa peran yang lebih kuat dari Dinas Pariwisata. Saya melihat bahwa selama ini peran mereka masih sebatas administrasi dan penyelenggara acara seremonial, padahal mereka seharusnya menjadi motor penggerak utama dalam pembangunan pariwisata daerah. Dinas Pariwisata harus lebih aktif dalam memberikan pendampingan kepada Pokdarwis, bukan hanya sekadar membentuk kelompok lalu membiarkannya berjalan sendiri tanpa arah. Mereka harus turun langsung ke lapangan, melakukan evaluasi, dan memberikan pelatihan rutin agar Pokdarwis bisa lebih profesional dalam mengelola wisata.
Selain itu, Dinas Pariwisata harus lebih inovatif dalam menyusun strategi promosi. Jangan hanya mengandalkan brosur atau event tahunan, tetapi mulai membangun ekosistem digital yang kuat. Mereka harus memastikan bahwa informasi tentang destinasi wisata di Dompu tersedia secara luas di internet, mendukung pembuatan konten berkualitas, dan menggandeng pihak-pihak yang bisa membantu dalam pemasaran digital. Tidak kalah penting, Dinas Pariwisata juga perlu bekerja sama dengan sektor swasta untuk membangun infrastruktur pendukung yang memadai, mulai dari akses transportasi, fasilitas wisata, hingga standar pelayanan yang bisa meningkatkan kenyamanan wisatawan.
Saya percaya, jika Pokdarwis dan Dinas Pariwisata bisa berbenah dan bekerja sama dengan lebih serius, pariwisata di Dompu tidak akan lagi tertidur dalam ketidakjelasan. Sudah saatnya semua pihak bergerak, meninggalkan mentalitas pasif, dan mulai membangun pariwisata yang lebih kompetitif. Jika tidak, maka Dompu akan terus tertinggal dan hanya menjadi daerah dengan potensi wisata yang tidak pernah benar-benar dimanfaatkan. Dan saya tentu tidak ingin melihat itu terjadi.
*Penulis adalah Pengamat Kepariwisataan